======================================================================================================
Bukan, bukan, pos ini bukan tentang tukang pijit.
Eniwei, akhir-akhir ini ada sebuah statement yang sangat mengganjal hati, gue namakan saja A Blind Man with Medication, atau, Orang buta dengan (kemampuan)Pengobatan. Berhubung pos ini agak agamawi eh, jadi yang ga mau baca bisa klik tombol Back pada Browser-nya :D
Lanjut!
Back to the line, gue sendiri ini lagi muter otak harus gimana memulai pos ini hahaha
Pernahkah kalian melihat orang-orang disekitar kalian, pedagang kaki lima, pengamen dan anak jalanan. Apakah pengetahuan 'mereka' tentang Tuhan itu sudah cukup? Atau malah kebanyakan dari 'mereka' menjalani hidup hanya sekedar hidup saja.
Makan, Duit, Tidur, Kawin ?
"Kalau hidup hanya sekedar hidup, Babi di hutan juga hidup.
Kalau hidup sekedar bekerja, Kera juga bekerja."
- Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah
(HAMKA)
Terkadang ada yang aneh saat gue melihat 'mereka' semua, tukang minta-minta di jembatan, dijalanan, depan mall dll. Entah kenapa pandangan gue tentang teman-teman gue yang sudah tinggi ilmu dunia dan Agama Buyar semua. Seolah itu percuma kalau masih banyak orang yang seperti gue lihat dijalanan itu. Gue gak tahu itu wajibkah bagi diri kita yang melabel diri kita sendiri sebagai 'pendakwah' untuk memberi ilmu Agama kepada mereka. Entah apa mereka masih menerima, atau malah kita yang dicaci maki karena mencampuri urusan kehidupan mereka.
Pernah sewaktu gue naik bus warna ijo (lupa arah mana, sunter ke gading gitu deh cuma ga sampe gading), disana ada seorang sopir dan kenek. Masing-masing dari mereka gue perkirakan berumur 30 tahun+ dengan perawakan (maaf) agak sedikit kumel.
Saat itu (maaf bukan maksudnya mau Ria) gue lagi membaca (you know lah) dibelakang bus dengan suara yang tidak terlalu keras. Lalu sang kenek yang dibelakang nimbrung "Itu bahasa arab ya?". Spontan gue hanya menjawab "Oh, iya bang"
Ada yang aneh gak? ya, dia bilang" itu bahasa arab ya", menurut gue ini sangat aneh dan dari situ gue mengeluarkan spekulasi :
1. Orang berumur 30 tahun+ ini tidak tahu kalau itu Al-Qur'an
2. Ia bukan Muslim dan tidak beragama Islam
3. Dari kata "itu bahasa arab ya" 70% gue yakin ia tidak memeluk agama apapun
4. 50% Gue yakin hal ini terjadi pada Istri dan anaknya (Jika ada)
Mungkin gue terlalu berspekulasi. Tapi lihat kenyataannya, ini membuat gue sadar mungkin ada ribuan orang seperti itu di Jakarta, mungkin ada ratusan ribu di Indonesia orang yang belum tersentuh Agama sama Sekali.
Dan hal lain yang gue dapati saat gue harus kembali ke barisan Mentoring dengan Bang Ridwan dan kawan-kawan, ya, kita mempelajari Islam, di satu rumah dalam satu lingkaran kecil yang terkadang hanya terisi 4-5 orang. Itu terjadi hampir setiap minggu, kita membicarakan kemajuan kita di universitas (kecuali gue), aktivitas organisasi, berita-berita tentang Islam mancanegara, berbicara Agama Islam dalam lingkaran kecil muslim dengan harapan menciptakan generasi Islam baru melalui sistem keturunan secara turun temurun. Tetapi Hey!
Bagaimana dengan orang-orang yang gue temui dijalan tadi, tak sedikitpun tersentuh pembahasan tentang 'mereka'. Bagaimana nasib 'mereka'? Akankah 'mereka' mati tanpa mengetahui Agama ini? Banyak dari 'mereka' hanya percaya "Ya, Tuhan memang ada", tanpa dilandasi Iman. Hanya percaya saja bahwa Tuhan ada, selebihnya ibadah dan Hukum agama-agama lainnya itu tak perlu.
Mungkin gue terlalu ikut campur akan kehidupan 'mereka' tapi setidaknya mereka tahu tentang Islam. Soal mereka terima atau tidaknya itu bukan kuasa kita lagi, minimal kita menyampaikan "ini loh Agama Islam".
Mungkin bagi orang-orang Kafir atau Non muslim yang membaca ini akan berfikir "dih berasa Islam agama yang paling bener aja"
Saran saya buat mereka-mereka cuma satu, setelah selesai baca tulisan ini, baca Semua Kitab-Suci yang kalian punya dirumah dari awal sampai akhir tanpa ada intervensi siapapun disana. Pahami Kitab itu menurut nalar kalian masing-masing, apakah itu 'perkataan' Tuhan atau Bukan?
***Oh sebelumnya gue pengen jelasin dulu kata Kafir diatas. Soalnya dulu ada temen gue ada yang tersinggung dengan kata Kafir.
Kafir itu dari bahasa arab, Kaf-Fa-Ra (pronounce : Kaf fa ro), artinya adalah Orang yang Ingkar. Maksudnya adalah Ingkar terhadap Islam. Berasal dari kata Kufur yang artinya Ingkar/Menolak.
Namun setelah masuk kata serapan di Indonesia, Kafir itu menjadi kata negatif(penghinaan). Makanya temen gue waktu itu ga terima dibilang kafir, karena dia pake bahasa Arab tapi pake pengertian Indonesia.***
***Oh iya sebelumnya juga bagi Muslim atau Non-Muslim yang sering menggunakan kata mukjizat pada suatu moment mendapat keselamatan, lebih baik hentikan. Mukjizat hanya milik Nabi, Karomah hanya milik Wali, Ma'unah dimiliki oleh orang awan seperti kita. Jangan menggunakan bahasa Arab dengan pengertian bahasa Indonesia***
Lanjut!
Bener kan masih banyak orang seperti 'mereka' di jalanan dan kita merasa biasa aja tuh, mungkin ada yang berfikir "gue aja beragama masih belom bener, ah itu mah urusan petinggi agama aja" terkadang gue masih berfikir seperti itu, tapi ini bukan sikap yang benar menghadapi 'mereka'.
Lain cerita dengan orang-orang beragama Non-Islam disekitar kita. Darimana mereka mendapat Informasi tentang Islam? Walhasil dari mulut ke mulut, dari sikap muslim yang ada disekitarnya, dari yang di tivi-tivi preman berbaju gamis dan bersorban, dari buku bahkan dari internet.
Dalam sebuah perbincangan gue dengan sahabat gue tentang agama, dia menilai Agama Islam dari sebuah situs Internet (alisina.org). Hahaha lucu kan. Anda ingin mengetahui tentang Islam? Baca Kitabnya!!. Anda ingin mengetahui tentang Kristen? Baca Kitabnya!!. Anda ingin mengetahui Budha? Baca Kitabnya!!. Lucunya sahabatku ini adalah seorang yang pintar, orang yang ilmunya sangat tinggi jauh diatas gue terlebih gue ga kuliah, ilmu gue cuma sampah doang kali bagi dia. Tapi orang pintar itu tak selamanya Jenius. Ia memilih untuk berfondasi dari opini orang lain (alisina) ketimbang dari sumber Aslinya Langsung (Al-Qur'an). Dan dia sempat bilang bahwa dia ingin menilai agama dari pandangan dia sendiri tanpa doktrin dan pemaksaan Ideologi orang lain. Hahahaha LUAR BIASA sekali sahabatku itu! Dia terlalu pintar untuk gue jangkau, gue pun tak mungkin menjangkau dan mengerti statement yang memakan statementnya sendiri. Gue terlalu bodoh untuk itu.
Mungkin gue gak terlalu kenapa-kenapa sih dengan orang yang beragama non-muslim, kita masih tetap berdiri di rel masing-masing dan memiliki Hukum yang kuat sebagai fondasi agar tidak terjadi pencorengan HAM. Bahkan kita juga masih bisa hidup berdampingan. Membantu satu sama lain. Tetapi 'mereka' yang kusebutkan di atas itu gimana? Sekali lagi gue gak tahu menolong 'mereka' itu wajib kita lakukan atau tidak, tapi kita pun jangan sampai tidak ada usahanya. Kalo dibilang wajib menolong pun mana buktinya? Hanya perbaikan Uang dan Gizi saja yang diberi. Pembimbingan Nilai moral dan Agama masih sangat langka.
Muslim zaman ini sangatlah banyak dan mayoritas, tapi mereka hening, terlalu sibuk oleh urusannya masing-masing
Terlebih di dalam Islam, orang yang meninggal dalam keadaan non-Muslim, akan dicabut nyawanya dengan sangat Kasar. Bukan kejadian saat Mati nya yah. Tapi proses penarikan ruhnya. Lalu saat di hari berbangkit kalian akan bertemu teman kalian yang Non-Muslim, lalu mereka pun akan protes kepadamu kenapa dulu kamu di dunia tidak memberitahu mereka tentang 'HAL' ini? mereka akan menuntutmu disana. Di dunia kalian hanya berteman dekat tanpa mengetahui akhir cerita kalian.
Ya inilah yang saya sebut "A Blind Man with Medication".
Saat teman kita sakit, kita punya obatnya, Tapi kita gak tahu mereka dimana, atau mungkin kitanya yang gak mau ngasih obatnya, atau yang lebih parah mereka tidak mau meminum obatnya. Seolah mereka Jauh, Padahal sangat dekat. Seolah mereka mati karena kita membiarkannya mati. Seolah mereka pasrah pada kematiannya.
Tidak ada agama yang Paling benar, Tetapi agama yang Benar pasti ada. Tidak mungkin kita Manusia yang berbentuk sama ini memiliki bermacam-macam Tuhan yang berbeda.
Agama, bukanlah status yang tertempel pada seseorang manusia dan bersifat kepemilikan.
Bukan Sesuatu yang tertera di Kartu Tanda Penduduk.
Bukan Formalitas ritual beribadah.
Bukan Penambah perbedaan, melainkan Pemersatu.
Bukan Jubah untuk terlihat Suci.
Bukan Alat Tukar dengan kekuasaan dan Harta
Bukan Alat manipulasi Politik
Tetapi sebuah petunjuk
atau cara hidup yang benar dan beribadah.
Karena berdoa berbeda dengan beribadah.
A artinya Tidak, Gama artinya Kacau (Sanskrit).
Agama seharusnya membuat sesuatu terlihat lebih teratur,
Hukum yang Tegak,
Fondasi Kehidupan,
Standar/tolak ukur/Pembeda Benar-Salah,
dan HARUS
Mengatur semua Aspek Kehidupan.
Segala sesuatu punya Hukum
Segala sesuatu punya Aturan
Mulai dari ciptaan paling Kecil di Semesta
Sampai ciptaan paling Besar di Semesta
Api Membakar
Magnet Menarik
Air Membasahi
Angin Menghembus
Galaksi Mengembang
Begitu Pula Manusia, Harus Memilik Aturan dan Hukum
Agar semua berjalan pada Lintasannya.
Untuk para Atheis dan Agnostik
Kalaulah tidak ada agama yang benar dan eksistensi Tuhan masih kalian Ragukan,
Lalu untuk apa semua ini tercipta?
Keisengan Alam Semesta saja kah?
Seseorang yang ada dalam tubuh kita ini, apakah hanya keisengan semesta?
Yang hanya tinggal menunggu mati?
Kalaulah memang tidak ada Surga dan Neraka,
Kenapa kita harus bekerja untuk mendapatkan Uang?
Kenapa tidak mencuri tanpa ketahuan saja?
Kenapa? Kalian takut dikira mirip Kucing pencuri Ikan?
Kan tidak ada Neraka, Tidak ada Dosa Toh?
Kita Bukan Hewan, yang bergerak berdasarkan naluri
Bukan Tumbuhan, yang hanya berharap di dalam kepasrahan pada iklim
Bukan Bumi, yang hanya berputar-putar menunggu tubuhnya digrogoti Manusia
Bukan Waktu, yang mengalir begitu tak tentu arah dan tujuan
Bukan Ruang, yang terbentang luas tak berujung, menunggu tiba saatnya bersatu dengan waktu.
Bukan pula Bintang-bintang, yang menunggu cahayanya redup dan mati
Kita adalah makhluk yang dilebihkan Segala-galanya dari makhluk lain.
Ya
Kita
MANUSIA
Yang hanya tinggal menunggu mati?
Kalaulah memang tidak ada Surga dan Neraka,
Kenapa kita harus bekerja untuk mendapatkan Uang?
Kenapa tidak mencuri tanpa ketahuan saja?
Kenapa? Kalian takut dikira mirip Kucing pencuri Ikan?
Kan tidak ada Neraka, Tidak ada Dosa Toh?
Kita Bukan Hewan, yang bergerak berdasarkan naluri
Bukan Tumbuhan, yang hanya berharap di dalam kepasrahan pada iklim
Bukan Bumi, yang hanya berputar-putar menunggu tubuhnya digrogoti Manusia
Bukan Waktu, yang mengalir begitu tak tentu arah dan tujuan
Bukan Ruang, yang terbentang luas tak berujung, menunggu tiba saatnya bersatu dengan waktu.
Bukan pula Bintang-bintang, yang menunggu cahayanya redup dan mati
Kita adalah makhluk yang dilebihkan Segala-galanya dari makhluk lain.
Ya
Kita
MANUSIA
Seneng sih melihat teman-teman yang semakin hebat dalam berilmu dengan tujuan memperbaiki negara ini, namun tak ada yang bertujuan untuk memperbaiki Manusia. Kebanyakan hanya memperbaiki Ekonomi negara, Hukum Negara, Statusisasi Kemakmuran, Pangan, Ilmu. Namun nilai-nilai moral dan Agama mereka hampir tidak tersentuh.
Tidak akan ada yang pernah menyangka akan jadi apa 'mereka' yang masih kecil dan tidak mendapat pengetahuan Agama dan Moral yang Cukup, akankah menjadi orang dewasa yang luntang lantung lagi? Ya gue tahu, ga semuanya seperti itu, tapi mayoritas nya seperti itu dan tak terelakkan lagi Terutama di Jakarta. Jangan ada lagi calon-calon anak berandalan. Hidup di dunia seolah 'mereka' tidak akan mati. Tidak tahu apa yang menanti 'mereka'.
Ini bukan hanya tentang 'mereka' yang secara ekonomi berada di Low Level. Namun juga para petinggi negara yang bermodalkan KTP Islam.
Karena negara hanya butuh orang yang berilmu dan bukan yang berakhlak baik, maka wajar terjadi Korupsi dan Nepotisme.
Orang ber KTP Islam takkan pernah menjamin Ke-Islam-annya.
![]() |



Tidak ada komentar:
Posting Komentar